Washington DC porakporanda

Amerika Serikat kembali dilanda gelombang demo ‘Black Lives Matter’ usai polisi Louisville, Kentucky penembak Breonna Taylor tak bisa dituntut. Taylor adalah pekerja medis kulit hitam yang tewas sudah ditembak polisi di apartemennya.

Dua polisi pelaku penembakan tidak akan dituntut karena penggunaan kekerasan mereka dibenarkan. Sedangkan petugas yang ketiga hanya dijerat dakwaan membahayakan tetangga Taylor.

Dilansir dari Reuters , Kamis (24/9/2020), Jaksa Gede Kentucky Daniel Cameron mengumumkan kesimpulan dewan juri Louisville pada konvensi pers, ketika pengunjuk rasa mendekati ketidakadilan rasial dan kebrutalan petugas berkumpul di jalan-jalan kota terbesar di Kentucky.

Dalam kesimpulan itu, mantan Detektif Brett Hankison didakwa atas tiga dakwaan membahayakan secara tidak sengaja pada tingkat pertama, sebuah pelanggaran yang menempati peringkat kejahatan paling rendah di Kentucky dan terancam hukuman penuh hingga lima tahun penjara.

Benjamin Crump, seorang advokat hak sipil yang mewakili puak Taylor, mengatakan keputusan itu “memalukan” karena tidak ada petugas yang akan dituntut secara pidana sebab menyebabkan kematian Taylor.

Taylor (26) tewas di ajaran pacarnya yang bersenjata, lewat tengah malam pada 13 Maret dalam apartemennya di Louisville. Perempuan berkulit hitam itu tewas setelah Hankison dan dua rekannya memaksa menyelap dengan surat perintah penggeledahan.

Cameron menjelaskan, dua aparat lainnya, Sersan Jonathan Mattingly serta Detektif Myles Cosgrove, tidak didakwa karena mereka dibenarkan berdasarkan lembaga Kentucky dalam membalas tembakan sesudah pacar Taylor, Kenneth Walker, mengarahkan mereka, melukai paha Mattingly.

“Tidak ada keraguan kalau ini adalah kasus yang menggundahkan dan emosional, ” kata jaksa Cameron, seorang Republikan berkulit hitam, pada konferensi pers.