Manila

Pemimpin Filipina Rodrigo Duterte menyatakan jadi dipenjara atas perintah pembunuhan untuk memerangi narkoba. Dia siap bertemu dakwaan yang bisa membuatnya dipenjara, meskipun bukan tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Sebagaimana dilansir Associated Press (AP), Selasa (20/10/2020) pemberitahuan Duterte yang disiarkan televisi dalam Senin (19/10) malam adalah salah satu pengakuannya yang paling jelas mengenai peluang bahwa dia dapat bertemu tuntutan pidana atas kampanye konflik melawan narkoba sejak menjabat pada pertengahan 2016.

Dekat 6. 000 pembunuhan tersangka narkoba telah dilaporkan oleh polisi namun pengawas hak asasi menduga jumlah kematian jauh lebih besar.

“Jika ada pembunuhan di kian, saya akan mengatakan bahwa hamba adalah orangnya. Anda dapat meminta pertanggungjawaban saya atas apa pula, kematian apa pun yang berlaku dalam pelaksanaan perang narkoba, ” kata Duterte.

“Jika Anda terbunuh itu karena aku marah dengan obat-obatan, ” sekapur presiden itu. “Jika itu yang saya katakan, bawa saya ke pengadilan untuk dipenjara. Baik, kami tidak punya masalah. Jika saya melayani negara saya dengan mengakar penjara, dengan senang hati, ” imbuhnya.

Setidaknya besar pengaduan atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan pembunuhan massal sehubungan secara kampanye Duterte sedang diperiksa sebab jaksa Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), yang akan menentukan apakah ada cukup bukti untuk membuka pengkajian skala penuh.

Duterte menanggapi keluhan tersebut dengan menarik Filipina dari pengadilan dunia tersebut dua tahun lalu, dalam sebuah langkah yang menurut kelompok hak asasi manusia sebagai kemunduran besar dalam perjuangan negara melawan impunitas. Jaksa ICC mengatakan pemeriksaan pembunuhan narkoba akan terus berlanjut walaupun Filipina mundur.

Tonton video ‘Bunuh Ribuan Simpulan Narkoba, Presiden Filipina Siap Dipenjara’:

[Gambas:Video 20detik]